Membaca puisi "Desaku" karya Setyo Pamuji atau yang lebih dikenal dengan nama pena Tyopam, rasanya seperti kembali pulang kampung dalam suasana yang damai. Puisi ini bukan sekadar untaian kata tentang keindahan alam, tapi sebuah surat cinta yang sangat jujur pada kampung halaman. Tidak heran kalau puisi ini menjadi salah satu yang dibacakan dalam acara besar untuk rekor MURI (2022), karena pesannya benar-benar menyentuh hati.
Inti dari puisi ini langsung terungkap di dua baris pertamanya: "Desaku tempat aku dilahirkan / Wadah berbagi rasa pada sesama." Tyopam ingin kita tahu: desa itu fondasi, tempat kita pertama kali belajar tentang hidup, dan yang paling penting, tempat kita belajar tentang berbagi. Ini bukan sekadar alamat di KTP, tapi ruang di mana koneksi antarmanusia itu masih sangat kental sebagai sebuah wadah, bukan dinding atau tembok.
Tyopam juga menggambarkan alam. Dalam puisinya tidak sekadar mengatakan alamnya indah, tapi alamnya itu berjiwa. "Gunung-gunung menyelimuti atma." Ini gila! Alam sudah bukan lagi objek yang kita lihat, tapi sudah jadi nyawa. Gunung itu seolah-olah memeluk dan menjaga jiwa penduduknya.
"Pantai terhias karang dengan ombak yang menari-nari." Penggunaan kata “menari-nari,” ini membuat ombak terasa hidup, punya ritme, dan menghadirkan pemandangan pantai yang aktif, bukan sekadar statis.
Semua elemen alam, gunung, pantai, dan goa, digabungkan dalam satu peran besar: "Penopang kehidupan." Ini menunjukkan betapa Tyopam melihat desa sebagai ekosistem yang utuh, yang menghidupi dan menjaga mereka yang tinggal di sana.
Tapi, puisi ini tidak hanya fokus pada alam. Tyopam juga menyoroti keindahan manusianya, yaitu keramahan dan keteguhan budaya.
"Senyum-senyum ramah menyapa / Tangan-tangan mengepal menjaga lestarinya budaya." Senyum adalah sapaan paling tulus, sedangkan "tangan-tangan mengepal" di sini bisa diartikan sebagai persatuan atau komitmen yang kuat. Mereka tidak hanya tersenyum ramah, tapi juga bahu-membahu mempertahankan nilai-nilai luhur.
Menariknya, meskipun puisi ini terasa personal dan tentang masa lalu, bait penutupnya justru membawa kita melihat ke masa depan. Tyopam menutup dengan harapan yang sangat ambisius, tapi juga mendalam: "Bukan untuk satu masa / Namun untuk selamanya."
Ini adalah statement pamungkas. Desa ini harus menjadi warisan abadi. Sebuah janji bahwa semua keindahan alam, kehangatan, dan keteguhan budaya itu harus lestari, tidak hanya dinikmati oleh satu generasi, tapi juga oleh generasi-generasi berikutnya.
Pada akhirnya, "Desaku" adalah puisi yang berhasil merangkum sebuah tempat menjadi sebuah perasaan. Tyopam mengajarkan kita bahwa sebuah desa adalah rumah spiritual yang harus kita peluk erat, karena di sanalah jiwa dan identitas kita terbentuk.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar